<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>kotakkatik.net</title>
	<atom:link href="http://kotakkatik.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kotakkatik.net</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 04:36:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kontroversi</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=68</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=68#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 23:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[UU Rahasia Negara
UU Rahasia Negara akan efektif untuk membatasi akses pers nasional terhadap isu-isu strategis pertahanan, namun tidak efektif mereduksi kemungkinan pers asing memberitakan isu-isu tersebut. UU Rahasia Negara hanya akan hanya akan efektif untuk membatasi akses publik atas informasi-informasi pemerintahan, namun tidak cukup efektif mengatasi problem difusi informasi penyadapan, operasi mata-mata oleh pihak asing. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>UU Rahasia Negara<br />
UU Rahasia Negara akan efektif untuk membatasi akses pers nasional terhadap isu-isu strategis pertahanan, namun tidak efektif mereduksi kemungkinan pers asing memberitakan isu-isu tersebut.<span id="more-68"></span> UU Rahasia Negara hanya akan hanya akan efektif untuk membatasi akses publik atas informasi-informasi pemerintahan, namun tidak cukup efektif mengatasi problem difusi informasi penyadapan, operasi mata-mata oleh pihak asing. Persoalannya disini lebih karena keterbatasannya teknologi dan Sumber Daya Manusia kita untuk mengatasi difusi informasi. Atau dikarenakan di jaman yang serba teknologis ini, difusi informasi memang menjadi pandangan penting bagi setiap negara. Namun RUU Rahasia Negara tidak menawarkan formula apa-apa untuk mengatasi masalah ini. Fokus utama RUU Rahasia Negara adalah pembatasan hak publik untuk mengakses informasi-informasi pemerintahan.<br />
Pada saat ini sedang berlangsungnya proses RUU Rahasia Negara. Dalam berbagai kesempatan, DPR maupun pemerintah menyatakan tekadnya untuk menyelesaikan pengesahan UU Rahasia Negara, yang kemudian ini menghadirkan masalah serius bagi upaya-upaya pelembagaan prinsip demokrasi, good governance, hak publik atas informasi dan kebebasan pers. Kemudian persoalan yang ada dalam RUU Rahasia Negara, potensi kompleksitas masalah yang dapat ditimbulkannya, karena tidak seimbangnya waktu yang tersedia bagi Panitia Kerja RUU Rahasia Negara, yang hanya tinggal hitungan hari. Sehingga ditakutkan percepatan pengesahan UU Rahasia Negara pada saat ini dengan substansi yang masih jauh dari prinsip-prinsip demokrasi, hanya akan memicu kontroversi yang lebih besar lagi dan akan mengurangi wibawa kepemimpinan nasional.<br />
Kemudian persoalan urgensi, bahwa perlu dipertimbangkan kembali rencana percepatan pengesahan RUU Rahasia Negara oleh DPR dan Pemerintah. Sebenarnya permasalahan bangsa indonesia saat ini terutama sekali bukanlah bagaimana menciptakan mekanisme kerahasiaan atas informasi-informasi pemerintahan guna melindungi kepentingan negara. Namun sebaliknya, bagaimana mengakhiri dominasi rejim kerahasiaan dan budaya ketertutupan dalam realitas penyelenggaraan pemerintah di semua lini dan semua level. Rejim kerahasiaan dan budaya ketertutupan sejauh ini terbukti masih menjadi kendala utama upaya pemberantasan korupsi dan perwujudan pemerintahan yang baik di Indonesia ini.<br />
Lalu persoalan substansi RUU Rahasia Negara, dilihat dari sisi substansinya pertama, “Rahasia Negara dirumuskan secara luas dan elastis. Rahasia Negara adalah tentang informasi, termasuk benda dan kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh Presiden berdasarkan Undang-Undang ini untuk mendapat perlindungan sesuai dengan standar dan prosedur pengolahan, yang apabila diketahui oleh pihak yang tidak berhak dapat membahayakan kedaulatan, keutuhan, keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Dalam lingkup Rahasia Negara ini masih tetap mencakup informasi benda dan aktivitas. Jika merujuk pada standar internasional pengecualian informasi atau kerahasiaan negara, rahasia negara seharusnya spesisfik mengatur hal tentang informasi saja, tidak mencakup benda dan aktivitas.<br />
Kemudian yang kedua, RUU Rahasia Negara tidak di rumuskan di atas asas “Pengecualian Informasi atau kerahasiaan negara bersifat ketat dan terbatas”, ini prinsip muniversal dalam pengaturan kerahasiaan negara yang berlaku di negara-negara demokratis. Lalu ketiga, disini tertera pada pasal 6 jenis rahasia negara masih dirumuskan secara luas dan tidak spesifik, yaitu mencakup “informasi rencana alokasi dan pembelanjaan tertentu”, Informasi tertentu yang berkaitan dengan alokasi anggaran dan pembelanjaan serta aset pemerintah yang tepat untuk tujuan keamanan nasional” informasi tentang posisi dan aktivitas pejabat negara yang berwenang dan bertanggung jawab dalam kondisi kesiagaan pertahanan atau keadaan bahaya” memang disini sudah ada penembahan kata “tertentu” pada beberapa jenis rahasia negara. Namun kemudian disini permasalahannya adalah siapa yang otoritatif untuk menentukan dan melalui mekanisme atau pengaturan pada level mana, penentuan itu akan dilakukan.<br />
Selanjutnya keempat, penetapan jenis rahasia negara tidak berhenti dalam UU Rahasia Negara namun juga merujuk pada perahasiaan informasi di Undang-Undang lain. Dengan kata lain, lingkup rahasia negara tidak sebatas pada lingkup informasi strategis pertahanan, intelijen, persandingan negara, hubungan luar negeri, fungsi diplomatik dan ketahanan ekonomi nasional. “Informasi dan dokumen berklasifikasi rahasia yang berkaitan dengan perjanjian internasional, baik secara birateral, regional, maupun multilateral dengan negara lain, organisasi internasional dan subyek hukum internasional lainnya. Ini tidak jelas dari mana asal klasifikasi rahasia ini, dari UU Rahasia Negara atau dari undang-undang atau peraturan yang lain.<br />
Lalu yang kelima, mengenai proses perahasiaan informasi dalam dilakukan secara kategorikal murni, tidak melalui uji konsekuensi dan uji kepentingan publik. Rahasia Negara dengan ruang lingkupnya demikian luas dan elastis, tidak dapat dibuka meskipun untuk melindungi kepentingan publik yang lebih besar, untuk fungsi pengawasan DPR juga. Bahkan rahasia negara tetap tidak dpat di buka meskipun dibutuhkan sebagai alat bukti dalam proses pengadilan, kecuali dengan seizin Presiden. Unsur masyarakat telah mengajukan mekanisme uji konsekuensi dan uji kepentingan publik ini sebagai bagian integral dari pengaturan UU Rahasia Negara, namun sejauh ini belum diadopsi oleh panitia kerja RUU Rahasia Negara.<br />
Kemudian keenam, persoalan yang diajukan pemerintah sebagai alasan untuk melegitimasi UU Rahasia Negara adalah Keterbatasan kapasitas pemerintah untuk melindungi sistem tersebut, kemampuan pihak asing membobol sistem kerahasiaan negara, praktek akses informasi oleh masyarakat dan pers yang dianggap berlebihan sehingga membuka rahasia negara. Sebenarnya tidak terlihat formula pemecahan masalah kemampuan pihak asing dalam membobol sistem kerahasiaan negara kita, yang dalam konteks ini, RUU Persandingan Negara lebih relevans daripada RUU Rahasia Negara. Kemudian yang ketuju, ketentuan pidana rahasia negara sangat aksesif, sumir dan tidak memperhitungkan perlindungan perlindungan hukum atas hak publik atas informasi. Lalu yang kedelapan, RUU Rahasia Negara mengancam kebebasan pers bukan hanya mennyumbat arus informasi publik untuk kebutuhan jurnalistik, namun juga dengan menerapkan pasal breidel.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=68</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menghargai Perbedaan - Perbedaan itu Indah</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=64</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=64#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 23:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kita mungkin sangat sadar dengan perbedaan-perbedaan budaya negeri kita saat ini, dengan adanya budaya yang berbeda-beda maka aktifitas ataupun perilaku atau sifat seseorang itu akan berbeda-beda pula, nah dengan adanya perbedaan itulah kita berusaha memahami orang lain, dan mencoba ingin tahu tentang orang lain bahkan ingin mengetahui budayanya juga dan kita juga berusaha menghargai perbedaan-perbedaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mungkin sangat sadar dengan perbedaan-perbedaan budaya negeri kita saat ini, dengan adanya budaya yang berbeda-beda maka aktifitas ataupun perilaku atau sifat seseorang itu akan berbeda-beda pula, nah dengan adanya perbedaan itulah kita berusaha memahami orang lain,<span id="more-64"></span> dan mencoba ingin tahu tentang orang lain bahkan ingin mengetahui budayanya juga dan kita juga berusaha menghargai perbedaan-perbedaan tersebut untuk menjalin kehidupan yang rukun dan berdampingan secara bersama-sama. Karena perbedaan itu indah, manusia saja di ciptakan laki-laki dan perempuan itu merupakan suatu contoh yang nyata bahwa perbedaan itu memang indah. Coba kalau saja manusia itu di ciptakan laki-laki saja atau perempuan saja maka apa jadinya.<br />
Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Kebiasaan-kebiasaan, prraktek-praktek, dan tradisi-tradisi untuk terus hidup dan berkembang diwariskan oleh suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu. Pada gilirannya, kelompok atau ras tersebut tidak menyadari darimana asal usul warisan kebijaksanaan tersebut. Generasi-generasi berikutnya akan terkondisikan untuk menerima “kebenaran-kebenaran” tersebut tentang kehidupan di sekitar mereka, pantangan-pantangan dan nilai-nilai tertentu di tetapkan, dan melalui banak cara orang-orang menerima penjelasan tentang perilaku yang dapat diterima, untuk hidup dalam masyarakat tersebut. Budaya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap faset aktifitas manusia.<br />
Kemudian kita lihat disisni sebenarnya bahwa perilaku seseorang itu cara berpikir nya terkadang secara tidak sadar sebenarnya itu masih dipengaruhi oleh budaya dimana tempat kita tinggal dan dimana temapat kita bergaul. Karena sebagian orang atau individu itu masih sangat cenderung menerima dan mempercayai apa yang dikatakan budaya mereka. Karena itulah kita dipengaruhi oleh adat dan pengetahuan masyarakat dimana kita dibesarkan dan tinggal. Terlepas dari bagaimana validitas objektif masukan dan penanaman budaya pda diri kita, pasti terkadang kita juga sadar dan cenderung mengabaikan atau menolak apa yang bertentangan dengan kebenaran kultural, atau mungkin bertentangan dengan dengan kepercayaan-kepercayaan kita. Kemudian ini sering kali merupakan landasan bagi prasangka yang tumbuh diantara anggota-anggota kelompok-kelompok lain, bagi penolakan untuk berubah ketika gagasan-gagasan yang sudah ada menghadapi tantangan. Masalah akan muncul bila suatu budaya dan cara berpikirnya itu tertinggal di belakang dengan adanya penemuan-penemuan dengan realitas-realitas baru. Contohnya dengan adanya kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sekarang ini, telah jauh mendahului ajaran-ajaran kultural masyarakat. Ini merupakan salah satu efek perubahan, yang mungkin sekali bisa menggeser eksistensi kebudayaan yang sudah ada.<br />
Bagaimana kalau kita adalah seseorang manajer perusahaan yang modern dan kebetulan kita bekerja disuatu Perusahaan dan dilingkungan perusahaan itu sendiri multibudaya banyak sekali perbedaan yang nampak disitu, ketika kita berada di lingkungan seperti itu bukannya kita secara tidak langsung perlu memahami apa yang terjadi dalam lingkungan perusahaan tersebut, kita perlu berinteraksi dan berusaha memahami kebiasaan-kebiasaan di lingkungan tersebut dan kita perlu mengembangkan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat perbedaan budaya tersebut. Dengan demikian kita akan lebih nyaman dan sesuai apabila kita berinteraksi dengan kelompok manapun, untuk mencapai tujuan itu maka perlu kita ketahui bahwa menghargai perbedaan-perbedaan itu menjadi sangat penting untuk menjalankan hidup yang sesuai dan selaras.<br />
Kemudian kita akan bahas mengapa menjadi penting setiap orang itu harus menghargai sebuah perbadaan-perbedaan sebuah budaya yang ada pada diri seseorang dengan oranglain. Karena kita itu hidup secara tidak sadar kita sangat perlu bantuan dari orang lain, yang mungkin suatu saat kita itu tidak akan harus menetap didaerah kita sendiri selamanya, melainkan kita itu mungkin akan hidup didaerah orang lain dan di budaya yang mungkin sangat berbeda dengan budaya kita sendiri. Dengan cara beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan yang kulturnya berbeda dengan kita mungkin awal-awal akan lebih terasa agak aneh dan kurang nyaman untuk kita berinteraksi. Tetapi dengan kebiasan kita menghargai orang lain di sebuah lingkungan kita berada tersebut, maka orang lain juga akan menghargai kita dan menghormati keadaan kita danperbedaan yang kita miliki. Justru dari perbedaan itulah biasanya kita akan merasa nyaman dalam menentukan pilihan untuk berinteraksi terhadap sesama, dan saling menjaga perbedaan yang dimiliki masing-masing, denagan tidak menghilangkan identitas diri kita sendiri, terhadap pengaruh lingkungan yang baru tersebut, tetapi kita juga harus menghormati budaya dan etika di lingkungan tersebut.<br />
Kemudian sebuah budaya yang berbeda-beda itu kaitannya dengan komunikasi kita adalah sebuah cara-cara kita berkomunikasi dengan orang lain yang mungkin orang lian itu belum mengenal kita sebelumnya dan berbada budaya pula maka orang lain tersebuta akan merasa kok ada yang aneh ya pada komunikasi nya, atau percakapannya. Dan keadaan keadaan komunikasi kita yang mungkin terkadang menjadi ciri khas kita dalam berkomunikasi pada sesama teman. Kemudian bahasa dan gaya bahasa yang kita gunakan atau perilaku perilaku nonverbal yang kita gunakan yang mungkin orang lain tidak pernah melakukannya bahkan itu akan menjadi simbol yang menciri khas kan budaya kita, itulah yang merupakan sebuah respons terhadap dan fungsi budaya kita, karena komunikasi itu biasanya terikat oleh suatu budaya.<br />
Dengan kita melihat saat ini, seperti saya saja yang tinggal di daerah orang, yaitu di Jogja sedangkan asal saya dari Sumatera, ini sangat nampak sekali perbedaan nya ketika saya harus berinteraksi dan menyesuaikan diri pada lingkungan yang ada pada saat ini. Bahkan di jogja ini perkumpulannya multi budaya yang sangat kompleks sekali bahkan dari seluruh kepulauan dan daerah-daerah di seluruh Indonesia khususnya telah bercampur menjadi stu di Jogja ini. Maka dengan demikian mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri kita terhadap perbedaan budaya ini. Dengan cara saling menghormati dan saling menghargai keberadaan budaya mereka agar tidak terjadi perselisihan diantara kita hanya karena perbedaan budaya.<br />
Sebenarnya perbedaan itu indah, tergantung bagaimana kita menanggapi perbedaan tersebut, coba sekarang kita lihat perilaku atau sikap laki-laki dan perempuan, itu sungguh sangat berbeda tetapi dengan perbedaan itulah laki-laki dan perempuan itu bisa saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain. Seperti halnya dalam kontks kita bergaul di lingkungan masyarakat atau bergaul pada teman-teman kita sendiri yang berbeda budaya, disitu kita akan merasakan betapa pentingnya seorang teman, karena dari segi pengetahuan, dari segi ilmu yang diterapkan di lingkungan budayanya, dari segi cara berpikirnya. Itu akan sangat berbeda dengan kita, ini lah kesempatan kita untuk belajar dari pengalaman teman atau orang lain yang berbeda budaya dengan kita, dari cara berpikirnya dari cara menyelesaikan masalah di kebudayaan mereka, maka itu akan menjadi pelengkap di kehidupan kita untuk menambah ilmu dan pengalaman kita untuk berpikir lebih luas dalam menyikapi suatu hal.<br />
Sebab itulah mengapa kita itu perlu menghargai perbedaan budaya oranglain, karena perbedaan itu merupakan sesuatu yang indah yang kita miliki pada saat kita itu hidup di dunia ini. Dan karena perbedaan itu sebuah hubungan pertemanan, kekerabatan, dan golongan akan menjadi saling melengkapi dalam berinteraksi satu sama lain. Tetapi persepsi seseorag disini menjadi penting dalam sebuah interaksi sosial dalam lingkungan masyarakat, secara umum di percaya bahwa orang orang berperilaku sedemikian rupa sebagai hasil dari cara mereka mempersepsi dunia yang sedemikian rupa pula. Terkadang perilaku-perilaku ini di pelajari sebagai bagian dari pengalaman budaya mereka. Baik dalam menilai kecantikan wanita atau melukiskan sebuah pohon, maka kita memberikan respons kepada setimuli tersebut sedemikian rupa sebagaimana yang budaya kita telah ajarkan kepada kita. Kita cenderung memperhatikan, memikirkan dan memberikan respons terhadap unsur-unsur dalam lingkungan kita yang penting bagi kita.<br />
Maka itu penting kita mempelajari komunikasi antar budaya, untuk lebih memahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial, dan kejadian-kejadian yang terlihat didalam lingkungan masyarakat. Terkadang masalah-masalah kecil dalam komunikasi sering diperumit oleh perbedaan persepsi-persepsi. Tetapi karakter budaya cenderung memperkenalkan kita kepada pengalaman-pengalaman yang tidak sama, dan sehingga, membawa kita kepada persepsi yang berbeda-beda atas dunia luar atau terhadap orang lain. Maka sebab itu kita harus mampu menghargai perbadaan-perbedaan itu supaya kita dapat mengerti dan percaya terhadap nilai-nilai atau sikap yang dimiliki oleh orang lain itu. Dan orang lain itu juga akan dapat menghargai kita dan sikap kita yang mungkin sangat berbeda sekali dengan mereka, karena kita dapat menghargai mereka dengan kepercayaan, sikap, dan nilai-nilai nya.<br />
Sebuah sisitem kepercayaan, nilai, dan sikap. Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan subjektif yang diyakini individu bahwa suatu objek atau peristiwa memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan melibatkan hubungan antara objek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristik yang membedakakan-nya. Disini bahwa dijelaskan sebuah kepercayaan itu tak lepas dari sebuah hubungan antara orang yang satu dengan yang lainnya yang mempunyai karakteristik-karakteristik yang berbeda. Sehingga seseorang itu dapat mempercayai satu sama lainnya, apabila diantara mereka terjalin hubungan yang saling menghargai satu sama lainnya.<br />
Nilai-nilai adalah aspek evaluasi dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi evaluasi ini meliputi kualitas-kualitas seperti kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan, dan kesenangan. Seperti halnya di kehidupan sehari-hari kita, apabila kita memilih pertemanan atua persahabatan dengan seseorang yang berbeda budaya, disitu maka kita juga melihat nilai-nilai seseorang itu, apakah orang itu baik, ada manfaatnya bagi kita, mampu membuat kita menjadi merasa lebih baik, mampu membuat kita merasa senang, bahkan sampai ketahap apa manfaat nya bagi kita berteman dengan seseorang itu. Manfaat bukan haya dilihat dari sebuah materi saja, tetapi kita mendapatkan manfaat itu dari banyak aspek, bisa dari kebaikannya, sifat-sifat baiknya yang mungkin akan berpengaruh bagi kehidupan kita, pengalamannya yang luas, sehingga mungkin kita membutuhkan pengalaman itu. Karena seseorang itu mempunyai suatu tatanan nilai yang unik, dan terdapat pula nilai-nilai yang cenderung menyerap budaya. Nilai-nilai inilah yang dinamakan nilai-nilai budaya. Maka sebab itu kita tidak perlu bersikap, mempersepsikan atau berperasangka buruk terhadap perbedaan perbedaan yang ada, hargailah perbedaan itu maka kita akan mendapatkan manfaat yang mungkin secara tidak sadar kita telah mendapatkannya.<br />
Nilai-nilai budaya ini umumnya bersifat normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seseorang anggota kelompok budaya tertentu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang salah, yang sejati dan yang palsu, yang positif dan yang negatif. Nilai-nilai budaya itu menentukan bagaimana orang layak mati dan untuk apa, apa pantas dilindungi, apa yang menakutkan orang-orang dan sistem sosial mereka, hal-hal apa yang patut dipelajari dan yang dicemoohkan, atau peristiwa-peristiwa apa yang menyebabkan individu-individu memiliki solidaritas kelompok.<br />
Nilai-nilai budaya juga menegaskan perilaku-perilaku mana yang penting untuk dilakukan dan perilaku-perilaku mana pula yang harus dihindari. Nah dari rujukan nilai-nilai budaya itulah kemudian yang membentuk karakter seseorang dan membentuk baik atau buruknya seseorang atau kebiasaan-kebiasaan seseorang. Sehingga dengan karakter-karakter yang timbul dari nilai-nilai budaya itulah kemudian ada perbedaan dengan karakter karakter yang di timbulkan oleh budaya yang lainnya. Oleh karena itu kita sebagai seseorang yang dilahirkan di budaya tertentu harus dapat menghargai perbedaan-perbedaan itu. Karena dengan perbedaan itulah kita jadi tahu bahwa dunia ini luas, dan pemikiran-pemikiran, pengalaman-pengalaman yang sangat luas bisa kita dapatkan dari perbedaan-perbedaan tersebut.<br />
Dengan kita berinteraksi dan berkomunikasi pada seseorang yang berbeda budaya dengan kita kita akan merasa mendapatkan suatu pengalaman yang baru, terhadap kehidupan yang sangat luas ini. Dalam pola komunikasi seseorang juga biasaanya dipengaruhi oleh pola-pola pikir terhadap latarbelakang budaya tertantu. Pola pikir itu sendiri sebuah proses mental, bentuk-bentuk penalaran, dan pendekatan-pendekatan terhadap pemecahan masalah yang terdapat dalam suatu komunitas, merupakan suatu komponen penting budaya. Kecuali seseorang itu mempunyai pengalaman bersama orang-orang lain, yang berasal dari budaya lain yang mempunyai pola pikir yang berbeda, kebanyakan orang menganggap bahwa setiap orang berpikir dengan cara yang sama. Namun kita harus sadar betul bahwa terdapat perbedaaan-perbedaan budaya dalam aspek-aspek berpikir.<br />
Pola-pola pikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana indivdu-individu dalam berkomunikasi dalam suatu budaya tertentu. Yang pada gilirannya atau percakapannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang itu merespons individu-individu dari budaya lain. Atau kita lihat dalam suatu keseharian kita dlam bercakap-cakap kepada teman-teman di mana saja, kita akan merasakan pemikiran yang berbeda-beda. Tetapi itu sebenarnya interaksi yang sangat bermanfaat sebenarnya bagi kita, untuk kita tahu lebih luas cara berpikir seseorang terhadap pemikiran-pemikiran kita itu akan menjadi referensi bagi kita untuk dapat kita berpir lebih luas juga dalam menyikapi suatu hal. Dengan mencocokan pemikiran-pemikiran orang lain dengan pemikiran kita sendiri, karena itulah menghargai perbedaan-perbedaan itu akan tlebih terasa keindahannya. Kita tidak dapat mengharapakan setiap orang itu untuk menggunakan pola-pola berpikir yang sama, namun kita harus dapat memahami bahwa terdapat banyak pola berpikir dan kita juga harus dapat belajar menerima pola-pola dan perbedaan-perbedaan tersebut, maka kita akan lebih mengetahui dan dapat mudah berkomunikasi dengan antarbudaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=64</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MENCARI HARTA</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=61</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=61#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 04:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nasehat hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Al maal (harta) dalam bahasa Arab bermakna emas, perak dan hewan ternak. Ibnu al-Atsir berkata : ”Al maal (harta) pada awalnya adalah setiap apa yang dimiliki berupa emas dan perak, kemudian digunakan untuk menunjukkan setiap sesuatu yang diperoleh dan dimiliki dari benda-benda. Dan kata maal paling banyak digunakan pada bangsa Arab untuk menunjukkan unta karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Al maal </em>(harta) dalam bahasa Arab bermakna emas, perak dan hewan ternak. Ibnu al-Atsir berkata : ”<em>Al maal</em> (harta) pada awalnya adalah setiap apa yang dimiliki berupa emas dan perak, kemudian digunakan untuk menunjukkan setiap sesuatu yang diperoleh dan dimiliki dari benda-benda. Dan kata <em>maal</em> paling banyak digunakan pada bangsa Arab untuk menunjukkan unta karena itu yang menjadi kebanyakan harta mereka.” Menurut Al Kramly, <em>mall</em> (harta) pada awalnya menunjukkan ”tanah”, kemudian berpindah ke ”tanaman”, dan ”setiap apa yang ada tampak di atasnya” kemudian ”hewan”, kemudian ”setiap sesuatu yang dimiliki”. Dan pada masa peradaban dan <em>tamaddun</em> bermakna ”emas dan perak” atau kertas yakni uang, apapun bentuknya. Sedangkan terminologi syariah, <em>al maal </em>merupakan segala sesuatu yang memiliki nilai dan boleh dimanfaatkan serta kepemilikannya diperoleh dengan cara yang sesuai syariah. <span id="more-61"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;">Harta dapat menimbulkan kebaikan dan sebaliknya dapat membuat keburukan.  Hassan bersyair : ”<em>Al-maalu tazri bi Aqwaamin dzawii hasabin—wa qad tusawwidu ghaira al_Sayyidi al maal </em>(Harta dapat membuat rendah kaum-kaum terhormat dan dapat mengangkat derajad yang bukan tuan menjadi tuan).<em> </em>Tujuan manusia mencari harta antara lain memenuhi fitrah dan nafsunya, mencukupi diri dan keluarga, membantu masyarakat dan memperoleh keridhaan Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; text-indent: 2.7pt;">Mencari harta merupakan fitrah manusia sejak diciptakan, tetapi dalam memenuhi tuntutan nafsunya harus dikendalikan dengan batasan syariah dan menggunakan cara sesuai syariah. Dalam surat Ali Imran ayat 14 : ”<em>Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang dingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” </em> Harta itu memang indah, melezatkan dan menggembirakan sehingga banyak orang ingin memburunya, meskipun hanya sampai batas yang dihalalkan saja, tetapi menurut Al Ghazali, jadi terbiasa mencintai harta sehingga sulit untuk berpisah dengannya. Perbuatan semacam ini dapat meresap dalam jiwanya, sehingga kadangkala dapat mengalahkan perasaan yang dahulunya suci menjadi kurang suci, dahulunya baik menjadi kurang baik. Bahkan yang dahulunya halal menjadi haram, karena kebiasaan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify; text-indent: 2.7pt;">Demikian pula Rasulullah s.a.w. bersabda : ”<em>Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu” </em>(Bukhari dan Muslim).  Al Ghazali memberi pedoman untuk kita tidak tamak dan loba terhadap harta. Pertama, hendaklah membiasakan diri hidup dalam keadaan sedang, sederhana, dan tidak berlebih-lebihan, secukupnya saja dalam berbelanja dan menjauhi kemewahan. Kedua, hendaklah seseorang itu meyakinkan dengan seyakin-yakinnya bahwa rizki yang sudah ditentukan untuknya pasti akan dicapai dan diperolehnya. Ketiga, hendaklah disadari dengan berbuat <em>qana’ah </em>(menerima apa yang ada sambil terus berusaha memperbaiki nasibnya) akan memperoleh kemuliaan. Keempat, hendaklah mengingat para Nabi dan Waliullah, yang hidup sederhana dan sabar menderita kekurangan. Kelima, hendaklah disadari bahwa harta itu dapat menimbulkan marabahaya kalau tidak dikelola menurut tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan mengikuti pedoman yang diberikan Al Ghazali, mudah-mudahan kita dapat mengusahakan sifat <em>qana’ah, </em>menerima dengan apa yang ada disisi kita, tetapi terus berusaha untuk memperbaiki kehidupan kita, tetap sabar dan tawakal kepada Allah, agar kita menjadi orang yang sukses dalam mencari harta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=61</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MELAKUKAN PENUMPUKAN DAN PENIMBUNAN HARTA</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=57</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=57#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 04:12:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nasehat hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Etika dalam membelanjakan harta mencakup skala prioritas, keseimbangan, harta yang dicintai, menyegerakan dan kelebihan dari kebutuhan pokok. Skala prioritas dalam membelanjakan harta terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 215 : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ”Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Etika dalam membelanjakan harta mencakup skala prioritas, keseimbangan, harta yang dicintai, menyegerakan dan kelebihan dari kebutuhan pokok. Skala prioritas dalam membelanjakan harta terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 215 : <em>Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ”Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. <span id="more-57"></span></em>Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Seseorang menghadap Rasulullah s.a.w. seraya berkata : Wahai Rasulullah s.a.w. aku memiliki uang satu dinar, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : <em>Belanjakanlah untuk keperluanmu sendiri. </em>Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : <em>Belanjakanlah untuk keperluan istrimu. </em>Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi. Rasulullah s.a.w. bersabda : <em>Belanjakanlah untuk keperluan anakmu. </em>Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : <em>Belanjakanlah untuk keperluan pembantumu. </em>Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : <em>Kamu tentunya lebih tahu dengan urusanmu sendiri </em>(Ibnu Hibban)<em>. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Keseimbangan dalam membelanjakan harta, seperti disebutkan dalam surat Al Furqaan ayat 67 : <em>Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Membelanjakan harta yang sempurna adalah dengan harta yang dicintai. Dalam surat Ali Imran ayat 92 : <em>Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. </em>Dari Anas r.a., dia berkata :”Abu Thalhah adalah orang terkaya dari kaum Anshar di Madinah.Harta miliknya yang paling ia cintai adalah kebun Bairaha’ yang menghadap masjid, Rasulullah s.a.w. sering memasukinya dan minum dari mata airnya. Anas r.a. berkata : ”Ketika turun ayat, <em> Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, </em>maka Abu Thalhah segera menghadap Rasulullah s.a.w. seraya berkata : ”Sesungguhnya Allah Allah SWT. telah berfirman : <em>Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya </em>dan sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’ dan sungguh itu aku telah sedekahkan untuk Allah SWT. yang dengannya aku mengharapkan kebaikan dan pahala di sisi Allah SWT. oleh karena itu wahai Rasulullah, pergunakan kebun itu untuk apapun yang engkau kehendaki”. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda :”<em>Bagus, harta itu pasti menguntungkan. Harta itu pasti menguntungkan. Aku mendengar pernyataanmu dan aku berpendapat lebih baik kamu memberikan kepada kerabatmu.” </em>Sebaliknya Rasulullah s.a.w. melarang menimbun harta, termasuk menimbun barang dagangan pada saat harga akan naik. Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : <em>Barangsiapa menimbun barang dagangannya (harganya naik), maka ia berdosa </em>(Muslim).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=57</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MENGGUNAKAN SUMPAH PALSU DAN MENGOBRAL SUMPAH</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=53</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=53#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 04:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nasehat hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Allah melarang menggunakan sumpah palsu untuk melakukan penipuan. Dalam surat An Nahl ayat 94-95 : Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar. Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah melarang menggunakan sumpah palsu untuk melakukan penipuan. Dalam surat An Nahl ayat 94-95 : <em>Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar. Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. <span id="more-53"></span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Allah memperingatkan kepda hamba-hamba-Nya untuk tidak menggunakan sumpah palsu sebagai alat tipu yang dapat menyebabkan orang tergelincir dari jalan yang lurus dan terperosok ke dalam jurang kesesatan, karena menghalang-halangi orang dari jalan Allah, yang oleh Allah diancam dengan azab yang besar. Demikian pula Allah melarang untuk menukar perjanjian dengan Allah, yakni menukar iman dengan benda dan kesenangan dunia, karena benda dan kesenangan dunia dengan semua isinya akan lenyap, sedangkan pahala Allah dan apa yang ada di sisi-Nya akan kekal dan lebih baik dari apa yang diperoleh di dunia serta janji Allah yang menjamin membawa hamba-hamba-Nya yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan dan perbuat.</p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Rasulullah s.a.w. juga melarang menjual barang dengan sumpah palsu. Dari Abu Dzar r.a., Nabi s.a.w. bersabda : ”<em>Tiga golongan manusia, Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat kelak, tidak menyucikan mereka dan mereka mendapat siksa yang pedih.” </em> Ia berkata :”Rasulullah mengucapkan sebanyak tiga kali”, kemudian aku katakan :”Mereka celaka dan sangat merugiwahai Rasulullah?” Beliau menjawab :”<em>Orang yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya (pemberiannya) dan yang menjual barangnya dengan sumpah palsu </em>(Bukhari dan Muslim).<em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Disamping sumpah palsu, Allah juga melarang bersumpah untuk keburukan. Dalam surat Al Baqarah ayat 224-225 : <em>Jangan jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwadan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Ibnu Abbas mengartikan ayat ini ”Jangan kalian menjadikan sumpahmu dengan nama Allah sebagai penghalang untuk berbuat baik, tetapi hendaknya kamu menebus sumpahmu itu dengan membayar denda kaffarahnya dan kerjakan yang baik itu”.</p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-right: -0.35pt; text-align: justify;">Demikian pula Rasulullah s.a.w. melarang mengobral sumpah dalam jual beli. Dari Abu Qatadah Al Anshari r.a., bahwasannya dia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : <em>Hindarilah banyak bersumpah di dalam jual beli, karena demikian itu bisa membuat laku tetapi menghancurkan dagangan</em> (Muslim)<em>. </em> Dari Abu Hurarirah r.a., katanya dia mendengar Rasulullah saw. bersabda : <em>“Sumpah itu melariskan dagangan, tetapi menghapus keberkahan.” </em>(Bukhari).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=53</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>curhatan</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=48</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 23:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Temen-temen bolehkan aku curhat ma kalian?
Aku lagi binggung ni menghadapi cowok aku kenapa nya dia sekarang kok kasar banget ma aku, apa dia udah bosennya ma aku, karena kami pacarannya udah 4 tahun berjalan mau lima tahun bulan april 2010 nanati, apa menurut kalian yang harus aku lakukan?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Temen-temen bolehkan aku curhat ma kalian?</p>
<p>Aku lagi binggung ni menghadapi cowok aku kenapa nya dia sekarang kok kasar banget ma aku, apa dia udah bosennya ma aku, karena kami pacarannya udah 4 tahun berjalan mau lima tahun bulan april 2010 nanati, apa menurut kalian yang harus aku lakukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Stabilitas Demokrasi dan Demokrasi Kesejahteraan</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=40</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=40#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 00:20:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[pemerintahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Kamilia Hamidah
 
Pendahuluan

Krisis 1998 diwarnai dengan merebaknya berbagai macam tuntutan dari masyarakat luas sampai pada puncak mundurnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan sebelum berakhir masa jabatannya. Peristiwa ini pula dianggap sebagai tonggak awal reformasi di Indonesia menuju proses demokratisasi yang sesungguhnya.

Berakhirnya rezim Orde Baru juga diramaikan dengan berbagai macam konflik sosial yang hampir serentak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<h4 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;"><span style="color: #7030a0;" lang="SV"><span id="more-40"></span>Oleh: Kamilia Hamidah</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV">Pendahuluan</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Krisis 1998 diwarnai dengan merebaknya berbagai macam tuntutan dari masyarakat luas sampai pada puncak mundurnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan sebelum berakhir masa jabatannya. Peristiwa ini pula dianggap sebagai tonggak awal reformasi di Indonesia menuju proses demokratisasi yang sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;&quot;;" lang="SV">Berakhirnya rezim Orde Baru juga diramaikan dengan berbagai macam konflik sosial yang hampir serentak terjadi di beberapa belahan wilayah Indonesia, baik itu konflik yang bersifat SARA maupun, yang murni politik, belum lagi terror bom yang meresahkan masyarakat pada umumnya. Ketidakstabilan sosio-politik ini semakin parah dengan krisis finansial yang telah sampai pada puncaknya, keadaan ini semakin buruk dengan bertambahnya persentase pengangguran, yang semakin memperbanyak terjadinya aksi kriminalitas di dalam negeri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;&quot;;" lang="SV">Keoptimisan para analisis politik Indonesia, yang diprediksikan Indonesia akan menjadi  mercusuar demokrasi ke negara-negara muslim (seperti yang dikatakan oleh Robert W. Hefner dalam bukunya Civil Islam, Muslim and Democratization in Indonesia, 2001) tampaknya kandas dengan krisis 1998 ini. Dengan pasar domestik dan industri menufaktur yang besar, Indonesia pada awal abad ke-21 dinggap akan masuk pada jajaran negara-negara ekonomi maju, hingga pada akhir 1998, bagaimanapun juga, prestasi ini akhirnya kandas. Krisis finansial yang merebak dikawasan Asia Timur pada Agustus 1997 memberikan implikasi terberat bagi Indonesia pada khususnya, sehingga anggapan ini kemudian berubah menjadi kepesimisan mendalam dari para analisis, karena dengan peristiwa ini memungkinkan akan membawa Indonesia kearah balkanisasi dan disintegrasi. Terlebih lagi dengan lepasnya Timur Leste dari NKRI pada masa Kepresidenan B.J. Habibie yang semakin menebar benih disintegrasi di dalam negeri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Dari sini, setelah hampir delapan tahun dari transisi reformasi, marilah kita bersama-sama menelaah, bagaimana demokratisasi bangsa Indonesia pada saat ini, seiring dengan trend era politik kemasyarakatan (civil society), yang dengan berakhirnya Orde Baru banyak diperjuangkan oleh banyak kalangan cendekiawan Indonesia. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyodo, bahwa apa yang baik kita teruskan dan apa yang kurang baik maka kita perbaiki, tanpa mencela usaha yang telah diperjuangkan oleh para pendahuku kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Perkembangan Demokrasi Indonesia</span></h5>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Untuk membangun suatu sistem politik demokrasi yang mapan, tentunya memerlukan sebuah tatanan yang rapi, berkesinambungan, kadangkala juga revolusioner, kendati akibatnya memerlukan biaya politik yang tinggi. Tampaknya perjuangan kemerdekaan Indonesia yang kita raih sejak tahun 1945 tidak terlepas dari perjuangan panjang para pendahulu kita, yang diawali pada tahun 1908 dengan tercetusnya Pergerakan Budi Utomo, sehingga menggerakkan nafas kebangkitan nasional pertama, dari situ kemudian tercetuslah Sumpah Pemuda 1928, sebagai tonggak perjuangan bangsa Indonesia menujua kemerdekaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Belajar dari masa lampau, maka kita dapati ada dua pola kultur politik yang sangat ektrem dalam masyarakat Indonesia; <em>Pertama,</em> berupa kecenderungan untuk memiliki kebebasan tanpa batas (unlimited freedom) yang dengan mudah berubah menjadi konflik internal, akselerasi konflik ini kerapkali berakhir dengan bentrokan fisik atau pemberontakan. <em>Kedua,</em> berupa pola kultur politik yang  cenderung ingin melumpuhkan konflik sama sekali, seperti fenomena yang terjadi pada masa pemerintahan demokrasi terpimpin atau dikenal dengan Orde Baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Kemudian fase selanjutnya, pada tahun 1966, ketika pada masa itu konflik yang muncul dikarenakan eksperimen bangsa Indonesia dalam berpolitik menganut dua sistem perpolitikan, apa yang desebut sebagai <em>demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin,</em> memicu konflik politik berkepanjangan disebabkan karena konfrontasi ideologi, hingga pada puncaknya peristiwa G 30 S/PKI yang banyak memakan korban jiwa. Dari peristiwa ini kemudian memunculkan banyak tuntutan dari masyarakat untuk kembali pada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 yang telah diakui bersama sebagai pedoman negara Republik Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Dari tuntutan untuk kembali pada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945, kemudian membawa bangsa Indonesia pada pola baru pada pembangunan kultur politik bangsa kita, dengan tema utama menyadarkan masyarakat untuk melaksanakan demokrasi Pancasila secara murni dan tepat. Tema sentral ini sangat jelas terlihat pada GBHN 1993 bahwa sasaran pembangunan nasional adalah terciptanya dan berfungsinya tatanan kehidupan masyarakat berdasarkan demokrasi Pancasila yang mantap dan dinamis, dengan kualitas manusia dan masyarakat yang tinggi, serta bersikap dan berperilaku sesuai nilai Pancasila dalam semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berwawasan Nusantara. Namun, perjalanan menuju tercapainya sasaran pembangunan tatanan kehidupan kultur politik yang konstitusional tersebut, tidak lepas dengan berbagai tantangan, baik itu dibidang politik, HAM, ekonomi, sosial, budaya yang secara tidak langsung menimbulkan citra yang merugikan bangsa Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV">Masa pemerintahan Orde Baru ditandai dengan pola demokrasi semu, dimana proses pemilihan umum cenderung dimanipulasi oleh partai penguasa, melahirkan tradisi dominasi negara atas masyarakatnya sehingga melemahkan civil society, karena   menguatnya civil society akan memberikan pengaruh negatif pada stabilitas dan pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Sehingga pola hubungan antara negara dan masyarakat menjadi amat timpang, dominatif dan dihegemoni oleh negara. Dengan reformasi 1998 yang menurunkan hegemoni negara, ternyata belum mampu menghasilkan sebuah tatanan civil society yang solid. Sehingga proses menuju ke sistem yang lebih liberalis dan demokrastis ini malah menguatkan egoisme dalam masyarakat Indonesia, yang ditandai dengan menguatnya egoisme putra daerah yang melahirkan beberapa catatan konflik berdarah di Sampit dan Sampang, meluasnya gerakan separatisme di Aceh dan Papua, menguatnya egoisme keagamaan seperti konflik Poso, hingga lepasnya Timor Timur dari NKRI.<strong> </strong></span></p>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Demokratisasi Indonesia</span></h5>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Pada banyak negara keberhasilan proses demokrasi dalam suatu negara ditentukan oleh empat faktor, antara lain, pola hubungna yang harmonis antara negara dan masyarakat, terbangunnya kepercayaan antara elite, terselenggaranya pemilu yang jurdil dan bebas untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin yang baru, serta tersusunnya aturan main atau konstitusi yang menggambarkan dinamika kehidupan sosial politik yang baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Pada kasus Indonesia, setelah delapan tahun Indonesia melewati masa transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya, pada tanggal 20 September 2004 terjadilah peristiwa yang menarik bagi proses demokratisasi di Indonesia, peristiwa pemilihan umum legislatif dan pemilihan calon presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat, cermin dari proses demokrasi kearah yang lebih matang dan dewasa. Ada beberapa titik poin yang perlu kita garisbawahi dari proses pemilihan umum ini, diantaranya; pemilihan legislatif, calon presiden dan calon wakil presiden secara langsung, peristiwa ini juga cermin demokratisasi di Indonesia dan terlaksananya pemilihan umum dalam situasi yang aman damai dan terlaksana secara jujur dan transparan, mengantarkan Indonesia pada kedewasaan berpolitik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Lantas dengan tercapainya demokrastisasi ini, apa yang menjadi tantangan bangsa Indonesia menuju stabilitas demokrasi itu sendiri? Menjawab pertanyaan ini, tantangan yang paling utama adalah menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat (strong state), yang artinya, <em>negara yang ditopang oleh aturan-aturan main yang demokratis dan penegakan hukum tanpa pandang bulu (fair referees, fair law enforcement), dan negara yang dalam penyelesaian masalah cenderung menggunakan cara-cara yang damai, bukan mengandalkan kekerasan.</em> Mungkin kita lihat bahwa proses menuju strong state ini jelas terformat pada masa pemerintahan transisi Presiden Abdurrahman Wahid, mengingat beberapa kebijakan kontroversial yang diambil oleh Gus Dur, seperti, keputusan untuk membubarkan Departemen Penerangan, dengan alasan agar masyarakat Indonesia memilih dan menggunakan informasi yang mereka ingin kembangkan sendiri tanpa campur tangan pemerintah, dan masih banyak lagi beberapa kebijakan-kebijakan lainnya, yang memberikan indikasi bahwa presiden memimpikan terselenggaranya institusi yang kuat (stong state) sebagai prakondisi tumbuhnya era kemasyarakatan (civil society) di Indonesia. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, ketika element strong state tersebut dapat terimplementasikan secara baik dan berkesinambungan maka akan terbentuk apa itu yang disebut sebagai <em>instrututional trust</em> dalam masyarakat yang nantinya akan membawa pada masyarakat Indonesia pada era Civil society.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Tumbuh kembangnya civil society dalam suatu masyarakat biasanya ditandai oleh semaraknya masyarakat sipil, dimana penghormatan terhadap nilai-nilai universal (keadilan, kemakmuran, kebangsaan) lebih menonjol dibandingkan dengan nilai partikularistik atau primordial (agama, etnis dan lain-lain) di arena perpolitikan, juga ditandai dengan berkembangnya <em>public podium</em> dan bukan <em>public mobilization</em> sebagai sarana menyelesaikan berbagai macam konflik secara damai. Selanjutnya, pemberdayaan politik kemasyarakatan menuju kultur politik yang dapat diandalkan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk mengembangkan diri atau kapasitasnya secara terus-menerus dan juga kemampuan untuk mengatasi berbagai macam krisis yang membahayakan dari waktu ke waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Pembangunan Kultur Politik Kemasyarakatan</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Menuju pembangunan kultur politik kemasyarakatan tentu saja dibutuhkan proses yang mendukung terbentuknya sebuah masyarakat madani, disini ada beberapa dimensi yang perlu diperhatikan dalam upaya terciptanya kultur politik kemasyarakatan, diantaranya; <em>Pertama,</em> dengan upaya konsolidasi setiap komponen infrastruktur politik, ekonomi serta sosial budaya, sehingga potensi dan kekuatan yang ada dalam tubuh bangsa dapat mempersiapkan diri melaksanakan perannya untuk menyukseskan tercapainya pemberdayaan sumber daya manusia yang mandiri, unggulan dan kompetitif. <em>Kedua,</em> perlunya diciptakan suasana serta mekanisme kebersamaan dan keterbukaan yang akan mendorong derap dinamika yang sudah ada dalam masyarakat, kearah yang lebih produktif, efektif dan efisien. <em>Ketiga,</em> terus-menerus dilakukannya kajian kecenderungan perkembangan keadaan baik didalam maupun diluar negari yang dapat memberikan peluang ataupun hambatan gerak dinamika bangsa dan menyiapkan kebijakan yang dianaut untuk menghadapinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Perlu digarisbawahi disini, bahwa dimensi pembangunan kultur politik yang tersebut mempunyai dimensi keterkaitan, sehingga ketiga-tiganya diharapkan dapat berjalan saling menopang satu sama lain yang perputaran dimensi tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi negara, dalam kapasitasnya sebagai institusi tertinggi, agar dapat menjamin demokrasi politik kemasyarakatan ini tetap stabil sehingga dapat menopang tumbuh kembangnya demokrasi kesejahteraan atau <em>demokratic prosperity</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV"> Tentu saja, perputaran tiga dimensi tersebut tidak bisa begitu saja bergulir tanpa memperhatikan beberapa aspek dominan yang memberikan pengaruh dalam proses pembangunan politk kemasyarakatan yang demokratis, dari beberapa aspek tersebut diantaranya, <em>ideologi dan budaya politik,</em> dengan jalan peningkatan pemahaman bahwa ideologi bersama adalah ideologi terbuka dan demokratis, <em>dari segi struktural dan lembaga politik;</em> dengan meningkatkan kapabilitas lembaga-lembaga yang ada, baik supra maupun infra agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, <em>dari segi partisipasi dan komunikasi politik;</em> dengan jalan pengembangan suasana keterbukaan masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya, <em>faktor-faktor non-politik;</em> dengan proses penyelarasan, mengimbangkan dan mengharmoniskan pembangunan kultur politik dengan pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Dan yang terakhir ini merupakan tantangan terberat bagi institusi pemerintahan, karena mengharmoniskan pembangunan kultur politik dangan pembangunan ekonomi memerlukan biaya yang tinggi, dan itu melibatkan seluruh aktor baik itu yang bersifat supra maupun infra. </span></p>
<h5 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Penutup</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;&quot;;" lang="SV">Dengan tercapainya kultur politik kemasyarakatan (civil society), maka dimasa yang akan datang akan mengantarkan Indonesia pada proses pendewasaan demokrasi yang matang (mature democracy). Tentu saja semua itu membutuhkan proses gradual yang melibatkan kesadaran pada segenap lapisan masyarakat untuk dapat turut andil dalam proses stabilitas demokrasi, dan stabilitas demokrasi ini dapat terus berjalan dan berkembang seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan dan kemajuan ekonomi, dengan cara peningkatan kesadaran politik kemasyarakatan dan <em>good governance</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: &quot;&quot;;" lang="SV">Sebagai penutup tulisan ini, mengutip pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan beliau pada pembukaan CNBC Strategic Forum 24 Januari 2005 yang lalu, beliau mengemukaan bahwa kesuksesan pembangunan nasional secara keseluruhan terletak pada sejauh mana efektifnya hubungan dan kombinasi antara demokrasi dan <em>good governance</em>, karena demokrasi tidak muncul secara bersamaan dengan good governance, begitupula demokrasi tidak serta merta memberikan jaminan terwujudnya kedamaian, kemakmuran, keamanan, kesamaan dan integritas kebangsaan pada kita, karena semua hal yang berharga tersebut akan dapat terwujud jika demokrasi dilengkapi dengan good governance.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Ketika tidak ada keterkaitan antara demokrasi dan good governance, maka apa yang kita sebut ’demokrasi’ menjadi cacat dan tidak berfungsi, sehingga kerapkali kita dapati contoh dari beberapa negara, dimana demokrasi menjadi tidak stabil, demokrasi dalam kemunduran, demokrasi dalam regresi dan demokrasi yang hancur dikarenakan oleh konflik dan kemiskinan (poverty). Dengan tumbuhnya hubungan yang sehat antara demokrasi dan good governance, maka tidak terelakkan akan terwujudkan apa itu yang beliau istilahkan sebagai stabilitas demokrasi dan kesejahteraan demokrasi (democratic stability and democratic prosperity), dan dari sinilah demokrasi dapat memberikan jaminan kehidupan yang lebih baik dan kebebasan bagi warga negaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Disampaikan Pada Seminar Grand lounching </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Forum Study ke-Indonesiaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Persatuan Pelajar Indonesia Islamabad</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">26 Agustus 2006</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=40</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KEPEMIMPINAN</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=33</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=33#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 00:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[

PENDAHULUAN
 
Ø Latar Belakang
 
Masyarakata yang modern berkepentingan dengan kepemimpinan yang baik, dan mampu menuntun organisasi sesuai dengan azas-azas manajemen modern, sekaligus juga bersedia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada bawahan dan masyarakat luas. Karena itu keberhasilan seorang pemimpin itu kecuali dapat dinilai dari produktivitas dan prestasi yang dicapainya, juga harus dinilai dari kebaikannya: dan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Hyperlink" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"><span id="more-33"></span>PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;">Latar Belakang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Masyarakata yang modern berkepentingan dengan kepemimpinan yang baik, dan mampu menuntun organisasi sesuai dengan azas-azas manajemen modern, sekaligus juga bersedia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada bawahan dan masyarakat luas. Karena itu keberhasilan seorang pemimpin itu kecuali dapat dinilai dari produktivitas dan prestasi yang dicapainya, juga harus dinilai dari kebaikannya: dan tidak melakukan “exploitation de I’homme par I’homme”(penghisapan oleh manusia pada manusia). Sehubungan dengan luasnya kegiatan manusia modern pada zaman sekarang, dirasakan perlunya ada pemimpin-pemimpin yang efektif dan baik pekertinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Dalam kenyataannya para pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerjadan terutama tingkat prestasi organisasi. <span lang="FI">Para pemimin juga memainkan peran kritisdalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka. Kemudian akan timbul pertanyaan; Apa yang membuat atau menendai bahwa seorang pemimpin itu efektif? Dan hampir semua orang itu apabila diajukan pertanyaan yang seperti ini akan menjawab bahwa pemimpin yang efektif itu mempunyai sifat-sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan, sebagai contoh mempunyai karisma, berpandangan kedepan, intensitas dan keyakinan diri. Bagaimanapun juga, kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;" lang="FI"><span>Ø<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="FI">Rumusan Masalah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="FI">Dalam makalah ini saya akan berusaha menjelaskan tentang Kepemimpinan, dan disini saya akan merumuskan masalah dengan bebera pertanyaan-pertanyaan yang akan dibahas di makalah saya ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;" lang="FI"><span>·<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Apa sih sebenarnya pengertian kepemimpinan itu.? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;" lang="FI"><span>·<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Apa saja sih macam-macam kepemimpinan itu.? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;" lang="FI"><span>·<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bagaimanasih kepemimpinan yang efektif.? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;" lang="FI"><span>·<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bagaimana sih pemimpin yang sejati.? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;" lang="FI"><span>·<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Dan bagaimana pemimpin yang melayani.?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 14pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"><span>Ø<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 14pt;" lang="FI">Teori Kepemimpinan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="FI">Kepemimpinan dalam pengertian umum adalah m</span>enunjukan suatu proses kegiatan seseorang didalam memimpin, membimbing, mempengaruhi atau mengontrol pikiran, perasaan, atau tingkahlaku orang lain. Kegiatan kepemimpinan tersebut dapat dilakukan melalui suatu karya, seperti buku, lukisan, dan sebagainya, atau melalui kontak pribadi<span> </span>antara seseorang dengan orang lain secara tatap muka (face-to face).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Kepemimpinan melalui karangan atau ciptaan yang dituangkan dalam bentuk buku atau lukisan dapat dikatakan pemimpin yang tidak langsung. Karena pemimin ini dalam usaha mempengaruhinya tidak seketika pada saat ia melakukan kegiatan, pemimpin-pemimpin jenis ini adalah para Ilmuwan, seniman, atau sasterawan yang hasil karyanya atau ide-idenya<span> </span>dapat mempengaruhi orang lain.Kepemimpinan yang bersifat tatap muka ini berlangsung melalui kata-kata secara lisan. Kepemimpinan jenis ini bersifat langsung, karena sang pemimpin dalam usahanya mempengaruhi orang lain, bergiat langsung pada sasarannya. Oleh karena berhadapan langsung<span> </span>atau tatap muka, maka ia mengetahui hasil seketika kegiatannya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Sedangkan Fiedeler mengemukakan Teori “Contingency”, ini adalah suatu teori yang komplek dan menarik yaitu contingency model of leaderhip effectiveness dari Fred Fiedler. Pada dasarnya teori ini menyatakan bahwaefektifitas suatu kelompok atau organisasi tergantung kepadainteraksi antara kepribadian pemimpin dan situasi. Situasi dirumuskan dalam dua karakteristik:</p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">Derajat situasi dimana pemimpin menguasai,      mengendalikan, dan mempengaruhi situasi, dan</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Derajat      situasi yang menghadapkan manajer dengan ketidak pastian.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;">Pembahasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Wingdings;"><span>§<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Kepemimpinan Efektif</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Dalam hal ini bagaimanapun juga, kepemimpinan yang efektif itu dilihat dari sebuah kemampuan dan keterampilan kepemimpinan tersebut didalam sebuah pengarahan. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas-kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menseleksi ini Pemimpi-pemimpin efektif akan meningkat. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasikan perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan efektif, organisasi barangkali akan dapat mempelajari berbagai perilaku dan teknik tersebut, oleh karena itu akan dicapai pengembanganefektifitas personalia dan organisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"><span>§<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Kepemimpinan sejati</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out). (<a href="http://www.wikipedia.com/">www.wikipedia.com</a>, <span style="color: blue;">mei 2008</span>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab: “As for the best leaders, the people do not notice their existence. The next best, the people honour And praise. The next, the people fear, And the next the people hate. When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. <span lang="FI">Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble). Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. </span><span lang="SV">Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV">Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun. Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV">Karakter Seorang Pemimpin Sejati Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ— EQ—SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial. Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbunya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management). Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">2. Visi yang jelas (clear vision)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV">Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).<span> </span></span>Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut. (<a href="http://www.wikipedia.com/">www.wikipedia.com</a>, <span style="color: blue;">mei 2008</span>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Wingdings;"><span>§<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Kepemimpinan yang Melayani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Sebuah ulasan yang menarik pada edisi 8 Februari 2002 di harian ini, di halaman depan, tentang wakil rakyat yang enggan turun ke wilayah yang dilanda bencana banjir. Ketika banjir melanda Jakarta, dan ketika masyarakat kedinginan dan perut kelaparan karena banjir, kita melihat betapa angkuhnya para politisi dan pemimpin kita tersebut yang bergeming sekalipun rakyatnya menderita akibat bencana banjir. Bahkan dikatakan bahwa rakyat harus kembali mengurut dada menelan kekecewaan, ketika ada komentar wakil rakyat yang dengan masa bodoh mengatakan, “Musibah banjir bukan hanya di Jakarta atau di Indonesia saja. Di luar negeripun ada banjir.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">Pengelola rubrik:Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Topik Mandiri kali ini sengaja dipilih untuk merenungkan kembali makna kepemimpinan yang sejati. <span lang="SV">Kepemimpinan sering diartikan dengan jabatan formal, yang justru menuntut untuk mendapat fasilitas dan pelayanan dari konstituen yang seharusnya dilayani. Meskipun banyak di antara pemimpin atau pejabat yang ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali atau bisa dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang sungguh-sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV">Sebuah buku yang menarik tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership) ditulis oleh Dr. Kenneth Blanchard dan kawan kawan, berjudul Leadership by The Book (LTB). </span>Ken Blanchard adalah juga co-author dari buku-buku manajemen yang sangat laris, seperti The One Minute Manager, Raving Fans, Gung Ho, dan Everyone’s Coach. Buku LTB mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani, yaitu seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang sangat berhasil di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut adalah HATI yang melayani (servant HEART), KEPALA atau pikiran yang melayani (servant HEAD), dan TANGAN yang melayani (servant HANDS). Hati Yang Melayani (Karakter Kepemimpinan) Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali betapa banyak kita saksikan para pemimpin yang mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru tidak memiliki integritas sama sekali, karena apa yang diucapkan dan dijanjikan ketika kampanye dalam Pemilu tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursinya. Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan-kawan, ada sejumlah ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani, yaitu: Tujuan paling utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun golongannya tetapi justru kepentingan publik yang dipimpinnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Entah hal ini sebuah impian yang muluk atau memang kita tidak memiliki pemimpin seperti ini, yang jelas pemimpin yang mengutamakan kepentingan publik amat jarang kita temui di republik ini. Seorang pemimpin sejati justru memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat. <span lang="FI">Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Ciri keempat seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountable). </span><span lang="SV">Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atau kepada setiap anggota organisasinya. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat. Seorang pemimpin sejati selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi. Kepala Yang Melayani (Metoda Kepemimpinan) Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV">Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama, yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metoda kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para pemimpin karismatik ataupun pemimpin yang menjadi simbol perjuangan rakyat, seperti Corazon Aquino, Nelson Mandela, Abdurrahman Wahid, bahkan mungkin Mahatma Gandhi, dan masih banyak lagi menjadi pemimpin yang tidak efektif ketika menjabat secara formal menjadi presiden. Hal ini karena mereka tidak memiliki metoda kepemimpinan yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya. Tidak banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metoda kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal. Oleh karena itu seringkali kami dalam berbagai kesempatan mendorong institusi formal agar memperhatikan ketrampilan seperti ini yang kami sebut dengan softskill atau personal skill.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 14pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"><span>Ø<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 14pt;" lang="FI">Kesimpulan<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span lang="FI">Kepemimpinan disini mumpunyai beberapa karakteristik dan macam tersendiri: Yang pertama,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span lang="FI">Kepemiompinan Efektif</span></strong><span lang="FI"> jadi intinya yaitu: Kepemimpinan yang dilihat dari sebuah kemampuan dan keterampilan yang ditunjukan dari sebuah kepemimpinan tersebut<span> </span>didalam melontarkan sebuah pengaran-pengarahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="FI">Kedua, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span lang="FI">Kepemimpinan Sejati </span></strong><span lang="FI">yaitu Kepemimpinan yang dilihat dari sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Dalam hal ini Kepemimpinan sejati itu bukanlah jabatan atau gelar, melainkan melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang dalam diri seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="FI">Ketiga,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><strong><span lang="FI">Kepemimpinan Yang Melayani </span></strong><span lang="FI">yaitu Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani dengan tujuan melayani kepentingan mereka atau bawahan atau publik yang di pimpinnya, dengan mengorientasikan bahwasannya bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, melainkan untuk kepentingan publik yang dipimpinnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Wingdings;" lang="FI"><span>Ø<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="FI">Daftar Pustaka</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="FI"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="FI">Drs. KARTINI KARTONO</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="FI">(Pemimpin Dan Kepemimpinan)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em>Drs. ONONG UCHJANA EFFENDI, M.A.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="SV">(KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em>Richard L. Daft (Management) 2006 edisi ke-6</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span lang="FI">T Hani Handoko (MANAJEMEN) edisi ke-2</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=33</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Penampilan Pria  Dalam Profesionalisme Kerja</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=22</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=22#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 00:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[ 

 Dalam dunia kerja saat ini kita tau bahwa penampilan itu sangat diperhatikan, tidak berlebihan jika penampilan pria itu memberikan pengaruh dalam profesionalime kerja, karena penampilan itu dapat menunjukan jati diri sendiri. Dengan penampilan baik dan sesuai dapat memberikan nilai tambah bagi dia. Demikian sebaliknya, mereka yang penampilannya sembrono, bisa memberi imej(image) buruk terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} --></p>
<p><!--[endif]--><span id="more-22"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="IN"><span> </span>Dalam dunia kerja saat ini kita tau bahwa penampilan itu sangat diperhatikan, tidak berlebihan jika penampilan pria itu memberikan pengaruh dalam profesionalime kerja, karena penampilan itu dapat menunjukan jati diri sendiri.</span><span lang="IN"> </span>Dengan penampilan baik dan sesuai dapat memberikan nilai tambah bagi dia. Demikian sebaliknya, mereka yang penampilannya sembrono, bisa memberi imej(<em>image</em>) buruk terhadap dirinya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Karena kenapa selama ini pria dalam hal penampilan itu lebih suka yag simpel-simpel saja, bahkan ada juga golongan pria yang masih berpenampilan sebrono tidak sesuai pada umumnya masih suka mengikuti tren masa kini, memang pria itu secara umum tidak berdandan seperti wanita, Namun bila pria meniru gaya busana wanita tradisional atau menggunakan kain, sarung dll, mereka terlihat aneh. Karena pria tidak berdandan, Jika<span> </span>pun mereka berdandan atau berpenampilan lebih rapi, bukan untuk menyenangkan pihak lain, tetapi untuk kepentingan kerja atau profesionalisme kerja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Dan didalam profesionalisme kerja seorang pria juga harus bisa selalu menyesuaikan, dalam hal ini penampilan yang sesuai, karena menjadi sangat penting cara berbusana ataupun penampilan itu bagi, seseorang yang sedang memberikan penilaian terhadap orang lain dan menentukan perilaku orang tersebut. Misalnya suatu manajer perusahaan dengan berpenampilan rapih, maka bawahan nya pun pasti akan meniru dengan penampilan rapih juga, sedangkan sebaliknya seorang atasan yang tidak memperhatikan penamilannya sendiri maka dia tidak akan di segani oleh bawahannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Pengaruh-pengaruh yang terjadi pada penampilan pria terhadap profesionalisme kerja itu sangat positif,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span>o<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Membangun <em>image </em>baik pada diri sendiri</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span>o<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Menciptakan suasana kerja yang baik dan teratur</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: &quot;Courier New&quot;;"><span>o<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Akan lebih percaya diri apabila berhadapan langsung dengan relasi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Didalam dunia kerja, kita atau kaum pria itu sangant penting membangun <em>image</em> yang baik dengan penampilan tersebut, karena dengan <em>image</em> yang baik kita akan lebih mudah bergaul dan dikenal banyak orang atau relasi, dan salah satu yang dapat mensukseskan suatu perusahaan dan khususnya diri kita sendiri itu adalah dengan banyaknya relasi. Dengan banyaknya relasi pada perusahaan kita, semakin mudah untuk membangun kerjasama yang baik pula.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Dengan menjaga penampilan yang baik dapat berpengaruh terhadap suasana kerja yang baik dan teratur pula, sebagai contoh apabila para karyawan perusahaan berpenampilan baik, maka <em>image</em> dia akan baik dan dia akan senang bekerja dan menciptakan suasana yang teratur dalam kantor, sedangkan para karyawan perusahaan berpenampilan semaunya sendiri atau acak acakan, itu sudah membangun <em>image</em> yang buruk bagi perusahaan tersebut dan otomatis suasana dikantor itu akan tidak nyaman dan terlihat tidak ada aturan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Dan dengan penampilan yang sesuai dalam profesionalisme kerja seorang pria akan lebih percaya diri dalam menghadapi setiap relasi yang datang, dan relasi itupun akan merasa nyaman karena relasinya mengenakan atau berpanampilan rapih, dan suasana kerja akan lebih terkontrol dan nyaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;">Jadi intinya disini penampilan pria di dalam Profesionalisme kerja itu sangat penting untuk dilaksanakan, karena ini menyangkut <em>image</em> atau citra diri sendiri, untuk menjadikan seorang pekerja yang professional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=22</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beriklan di Internet</title>
		<link>http://kotakkatik.net/?p=12</link>
		<comments>http://kotakkatik.net/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 23:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedew</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotakkatik.net/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Irfan Syaiful
 Seperti yang kita ketahui bahwa media internet itu sangat pupuler dan sangat meluas luarbiasa pada saat ini. Daanak-anak hingga dewasa ataupun orang tua sekalipun dapat menikmati yang namanya media internet atau sering disebut media globalisasi. Media globalisasi ini sendiri adalah peringkasan dunia dan intensifikasi atas kesadaran dunia sebagai sebuah kesatuan (Robertston dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]><br />
<mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --></p>
<p><span id="more-12"></span><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1027" /> </xml><![endif]--><em><span lang="IN">Oleh Irfan Syaiful</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype  id="_x0000_t202" coordsize="21600,21600" o:spt="202" path="m,l,21600r21600,l21600,xe"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:path gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t202" style='position:absolute;  margin-left:3.6pt;margin-top:13.4pt;width:132.15pt;height:149.7pt;z-index:251658240;  mso-wrap-style:none'> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1026;mso-fit-shape-to-text:t" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1026;mso-fit-shape-to-text:t"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal style="mso-outline-level:1" mce_style="mso-outline-level:1"><span lang=IN     style="mso-ansi-language:IN" mce_style="mso-ansi-language:IN"><v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600"      o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f"      stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style='width:117pt;      height:127.5pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.gif" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.gif"       o:title="" /> </v:shape><o:p></o:p></span></p>
<p class=MsoNormal style="text-align:justify" mce_style="text-align:justify"><i><span lang=IN     style="mso-ansi-language:IN" mce_style="mso-ansi-language:IN"><o:p>&nbsp;</o:p></span></i></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> <w:wrap type="square" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><span style="font-size: 20pt; color: #c00000;" lang="IN"> S</span><span lang="IN">eperti yang kita ketahui bahwa media internet itu sangat pupuler dan sangat meluas luarbiasa pada saat ini. Da</span><span lang="IN">anak-anak hingga dewasa ataupun orang tua sekalipun dapat menikmati yang namanya media internet atau sering disebut media globalisasi. Media globalisasi ini sendiri adalah </span>peringkasan dunia dan intensifikasi atas kesadaran dunia sebagai sebuah kesatuan <em>(Robertston dalam Devereux,</em><em><span> </span>2003:29</em><em><span lang="IN">)</span></em>. seperti internet ini <span lang="IN">bahkan sekarang sudah menjadi kebutuhan oleh banyak kalangan. Untuk<span> </span>kepentingan browsing dengan tujuan menambah wawasan, untuk belajar dan tidak jarang ada juga yang menghilangkan rasa jenuhnya dengan membuka network friendster, face book, situs-situs yang sifatnya menghibur. Secara tidak kita sadari bahwa apa yang kita buka pasti ada sepenggal ataupun dua penggal advertising atau iklan yang masuk atau nampang di layar network tersebut secara bergantian. Iklan didalam internet ini kemasan informasi nya malah lebih menarik. Apalagi internet itu sangat di gemari oleh banyak kalangan jadi sangat mungkin iklan itu akan selalu terbuka dan sangat efektif. Dan rasanya ini akan menjadi jalan yang bagus untuk periklanan dan publik marketing suatu perusahaan. Sehingga tidak heran banyak sekali sekarang ini perusahaan-perusahaan ataupun instansi-instansi yang memanfaatkan media internet sebagai alternatif yang sangat efektif untuk beriklan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Pada dasarnya pemilihan media internet sebagai periklanan sekaligus sebagai marketing itu hampir sama prosesnya dengan pemilihan media lain seperti televisi, media massa “koran dan majalah”, out dor “billboard, spanduk” dan radio. Harus melawati beberapa filteragar nantinya bisa memperoleh hasil yang efektif , efisien dan maksimal sesuai dengan objektifnya. Maka suatu perusahaan apabila mau beriklan di internet itu harus dapat memilih network yang sesuai ataupun yang cocok dengan target marketnya. Jadi perlu peninjauan kembali ke brand itu sendiri sperti apa sih terget marketnya, dari segi usia, jenis kelamin, strata sosial, tingkat pendidikan hingga sampai orang yang mempengaruhi target market utama. Dan setelah mengetahui target market yang di cari itu cukupa atau bahkan lebih potensial di media internet, lalu langkah selanjutnya adalah menentukan networkyang sesuai. Maka kita harus ingat internet itu bisa menjadi media yang sangat tersegmentasi atau terbagi-bagi, sama seperti majalah, nah majalah itu sendiri terbagai-bagi ada majalah bisnis, majalah bola, majalah anak muda, majalah wanita, majalah kesehatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Maka sebab itu kita harus tau target marketnya secara objectives, objectives itu sendiri adalah instrumen untuk mengevaluasi program komunikasi pemasaran dan memilih strategi yang tepat <em>(Russell Colley dalam Michael L, 1961)</em>. Kalau memang target marketnya misal anak mauda di indonesia, dari wanita maupun pria. Mungkin kita bisa menggunakan network yang cocok untuk beriklan adalah “Friendster.Com” yang saat ini menjadi website nomer satu di Indonesia, yang hingga saat ini page viewnya tinggi sekali dan hampir setiap anak muda di indonesia mempunyai account di situs ini. Nah ini menjadi pilihan yang sesuai bagi brand perusahaan yang mempunyai target market anak<span> </span>muda pada khususnya. Itu sebabnya kita atuapun pihak perusahaan harus mengerti target pasar terlebih dahulu, kemudian memilih dan mempelajari network yang ada. Dan mintalah data selengkap mungkin. Setelah anda mengetahui network apa yang sesuai, langkah berikutnya adalah, menentukan strategi untuk online campaign yang diinginkan. Nah disinilah perbedaan antara tradisional media seperti “tv, radio, majalah” dengan non tradisional media seperti “internet” ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Banyak sekali jenis iklan di internet dan <span> </span>bahkan beragam bentuk yang diinginkan oleh pengiklan dapat di akomodasi secara teknis, maka iklan tersebut dapat diwujudkan. Di kompas cyber Media, ada beberapa jenis iklan yaitu: iklan banner, iklan layer, iklan baris. Sedangkan iklan yang terbaru saat ini adalah iklan advertoriaol, dimana perusahaan dapat menayangkan berita-berita mengenai perusahaannya didalam rubrik-rubrik Kompas Cyber Media yang dipilih. Selain itu perusahaan juga dapat membuka rubrik konsultasi di Kompas Cyber Media. Dikompas Cyber Media, pengiklan dapat mengambil manfaat dari banyaknya tingkat kunjungan yang rata-rata perhari mencapai 1,5 juta. Bahkan diwaktu peak season, tingkat kunjungan bisa mencapai 2 juta perhari, pengunjungnya juga berkualitas, dan yang paling penting, semua iklan akan mendapat data statistik mingguan nah dengan data st atistik tersebut, pengiklan atau perusahaan yang beriklan mendapatkan data berapa banyak iklan yang mereka yang dilihat dan di akses oleh users atau para pengguna internet. Sehinnga dengan data tersebut suatu perusahaan tersebut mendapat suatu bahan analisa untuk strategi periklanan dan komunikasi. <em>“<a href="http://www.google.com/">www.google.com</a>, search Kompas Cyber Media”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Kelebihan dan keuntungan beriklan secara online di internet itu salah satunya adalah beriklan di internet memungkinkan kita atau perusahaan menjangkau target market yang sangat luas dan tak terbatas. Dibandingkan pemasaran secara offline atau media tradisional hanya memungkinkan pemasaran pada lingkup yang terbatas dan<span> </span>menjangkau pasar lokal dan nasional saja. Efektifitas beriklan dan pemasaran secara online di internet ini telah teruji keefektifan nya. Karena dengan beriklan online ini perusahaan dapat langsung memilih target market atau target pasar yang tepat. Baik itu di negara tertentu, maupun kepada konsumen atau orang yang memiliki niat tertentu untuk menjadi sasaran pasar. Kemudia dari pihak perusahaan pun tidak perlu mengeluarkan banyak waktu dan biaya untuk pasar yang bukan merupakan sasaran perusahaan. Dengan briklan secara online di media internet, modal dan resikonya lebih kecil dibandinkan dengan modal dan resiko beriklan dengan media tradisional, baik lewat koran ataupun majalah. Jika menggunakan media online atau internet maka akan banyak teknoloi pemasaran yang dapat di terapkan untuk menekan biaya iklan.<em> “<a href="http://www.google.com/">www.google.com</a> Promo.web.id”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Jadi sudah taukan keuntungan nya beriklan di internet. Dengan beriklan di internet ini suatu perusahaan dapat meminimalisir biaya untuk periklanan. Karena biaya untuk beriklan di internet ini lebih murah di bandingkan dengan biaya beriklan di majalah maupun koran. Dan dengan semakin banyaknya biro atau jasa iklan online di internet yang semakin lama akan semakn banyak, maka pemasang iklan atau perusahaan malah justru mempunyai banyak alternatif untuk membuat keputusan dan memilih network yang pas dengan target pasarnya dan sesuai dengan biaya yang diinginkan si pemasang iklan ataupun pihak perusahaan. Seperti yang dikemukakan oleh beberapa kalangan di luarnegeri, iklan di internet itu lebih efektif bila di bandingkan iklan menggunakan media tradisional. Hanya saja, untuk di Indonesia ini memang harus lebih di komunikasikan, karena masih banyak peruasahaan yang belum memahami pentingnya internet sebagai sasaran alternatf untuk beriklan dan sebagai strategi komunikasi perusahaan. Meskipun demikian kita harus tetap optimis. <em>“<a href="http://www.google.com/">www.google.com</a>, search Kompas Cyber Media”.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotakkatik.net/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
